Konon ada negeri sangat kaya. Tanahnya sangat subur. Di sana, tongkat kayu jadi tanaman. Di sana, semuanya bisa tumbuh kecuali keadilan. Sumber daya lautnya tiada tanding, sampai ada lirik lagu: bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kautemui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Garis pantainya salah satu yang terpanjang di dunia. Hasil tambangnya tak habis dikeruk tujuh turunan. Tak cuma tanah dan lautnya, bahasa, budaya, adat istiadat, dan bahkan manusianya paling beragam di dunia.
Namun, meski tanahnya subur, petani-petani di sana hidup menderita. Bagaimana tidak, pupuk sulit didapat. Saat panen, pasar-pasar dipenuhi impor dari negeri lain. Hasil panen jatuh bebas, dibuang ke sungai-sungai, dibiarkan membusuk, tak ada harganya. Modal berjuta-juta menguap. Utang sana-sini jadi solusi supaya dapur tetap ngebul.
Lahan-lahan yang subur lebih sering digarap orang tua renta. Pemudanya lebih tergoda pekerjaan di kota-kota besar yang lebih menjanjikan kemapanan dan lebih bergengsi. Bertani tak lagi diminati sebab kotor, bau, dan tak bisa dibanggakan di depan calon mertua. Para petani menua tanpa ada penerusnya. Lucunya, para pemimpinnya berteriak-teriak, "Swasembada, swasembada, swasembada. Kita akan mewujudkan swasembada pangan."
Di sana, meski lautnya kaya sumber daya, nelayan-nelayannya menderita. Laut dipagari, diuruk, dibiarkan dijamah bangsa asing. Bahan bakar sering tak terbeli. Kapal-kapal terpaksa parkir di dermaga tanpa melaut. Nelayan-nelayannya berpenghasilan tak menentu, sering tak cukup untuk mengganti biaya bahan bakar mereka.
Di sana, di negeri yang katanya beradab dan berbudaya, pencari kebenaran diteror, dicaci maki, disiram air keras, dipenjara. Di sisi lain, koruptor disanjung dan dipuja-puja, bahkan menjadi pemimpin negeri. Anak-anak diajari moralitas, tapi orang dewasa berbuat culas, uang pelicin dianggap jalan pintas. Anak-anak diceramahi bahaya korupsi menggerogoti negeri, tetapi pejabatnya korupsi setiap hari. Pejabatnya dipilih berdasarkan elektabilitas bukan intelektualitas, apalagi moralitas.
Di sana, para siswa diminta membaca buku demi meningkatkan literasi, meskipun mereka tak punya buku di rumahnya. Harga buku bisa setara kebutuhan hidup selama beberapa hari. Bukannya disubsidi agar terbeli, buku malah dipajaki begitu tinggi. Di sekolah-sekolahnya tak ada perpustakaan. Kalaupun ada, buku-bukunya tak bermutu, ketinggalan zaman, berdebu di pojokan rak, dan dibiarkan dimakan rayap. Jangankan untuk membeli buku atau membangun perpustakaan, gedung-gedung sekolahnya saja terlampau banyak yang tidak layak.
Apakah negeri itu benar-benar kaya?
Anak-anak diminta bercita-cita setinggi-tingginya, bercita-cita menjadi apa saja, saat gedung-gedung sekolah miring butuh disangga. Tempat yang harusnya menjadi awal buat mereka menggapai cita-citanya justru koyak di sana-sini, dibiarkan membusuk dimakan waktu. Anak-anak putus sekolah di mana-mana, mengemis, meminta-minta. Mereka dieksploitasi, dipertontonkan demi konten, dibuang, dibiarkan kebingungan seolah-olah kehadirannya tak diinginkan.
Di sana, restoran mewah tumbuh subur di tengah keluarga-keluarga kecil yang untuk makan saja harus menghitung uangnya karena takut tidak cukup. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin semakin nyata. Gedung-gedung dibangun semakin tinggi. Namun, rumah-rumah semakin sempit. Lahan pertanian menghilang berganti permukiman padat yang kumuh dan sesak.
Banyak rumah sakit berdiri megah menjulang, dipenuhi peralatan canggih di dalamnya. Namun, orang-orang menunda berobat karena tak punya uang, menahan sakit berhari-hari takut biaya pengobatan menghabiskan tabungan bertahun-tahun, terpaksa datang ke rumah sakit ketika sudah terlalu parah. Di negeri yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan, orang miskin tak boleh sakit sebab ia akan dicaci maki dan dianjurkan untuk mati saja oleh dokter yang seharusnya mengobatinya.
Di kota-kota besar, rumah sakit berdiri berdekatan. Di pelosok negeri, satu nakes harus melayani begitu banyak orang. Jarak antara orang sakit dan pertolongan kadang bukan sekadar beberapa kilometer, tetapi berjam-jam perjalanan melewati jalan rusak, sungai, dan pegunungan.
Di sana, katanya semua orang memiliki hak yang sama di depan hukum. Namun, hukum lebih tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada pemilik uang dan kekuasaan. Orang mencuri karena lapar dipukuli sampai mati, koruptor rakus pencuri triliunan uang rakyat masih bisa tersenyum di depan kamera. Penjara penuh orang-orang yang tak punya kuasa, sementara orang berkuasa diberi celah agar tidak pernah benar-benar merasakan pedihnya hukuman atas tindakannya.
Katanya keadilan bagi seluruh rakyat. Namun, orang miskin menghadapi keadilan dengan tangan kosong. Mereka tidak punya pengacara mahal, koneksi, dan tidak punya siapa-siapa untuk mengetuk pintu kekuasaan. Di sisi lain, mereka yang kaya raya dan berkuasa menyewa banyak kepala untuk membela satu perkara. Pada akhirnya, kebenaran harus berjuang melawan sesuatu yang jauh lebih kuat: uang. Maju tak gentar membela yang bayar. Begitulah yang sering terjadi di negeri itu.
Di negeri itu, hutan-hutannya paru-paru dunia. Pohon-pohonnya berumur ribuan tahun, menyimpan air, menjaga tanah, menjadi rumah bagi jutaan kehidupan. Namun, satu demi satu pohon ditebang, hutan dibuka, tanah dikeruk, gunung dibelah. Ketika banjir datang, mereka menyebutnya bencana alam. Ketika tanah longsor menelan rumah dan manusia, mereka menyebutnya musibah.
Di sana, listrik menerangi gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, hotel, dan kawasan industri. Namun, rumah-rumah rakyat di perbatasan gelap ketika malam tiba. Mereka menggali batu bara dari tanah sendiri, menjualnya ke berbagai penjuru, tetapi listrik untuk rakyatnya justru sering dipadamkan bergiliran.
Masyarakat membayar pajak untuk membangun negeri. Mereka bekerja, berdagang, membeli barang, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk negari. Namun, ketika jalan rusak, mereka harus mengeluh sendiri. Ketika fasilitas umum buruk, mereka harus menerima sendiri. Ketika pelayanan publik lambat, mereka harus menunggu sendiri. Mereka membayar untuk mendapatkan pelayanan, tetapi kadang masih harus membayar lagi agar pelayanan itu bergerak lebih cepat.
Di sana, kendaraan semakin banyak, jalan semakin lebar, tetapi waktu tempuh justru semakin panjang. Kota-kota dibangun untuk memudahkan manusia bergerak, tetapi manusia semakin lama terjebak dalam kemacetan. Orang-orang berangkat pagi sekali agar tidak terlambat bekerja, lalu pulang ketika hari hampir berganti. Rumah hanya menjadi tempat tidur. Hidup akhirnya habis di antara rumah, jalan, dan tempat kerja.
Para buruh membuat barang-barang yang memenuhi toko-toko dan pusat perbelanjaan. Mereka membuat pakaian mahal, merakit barang elektronik, mengemas makanan, membangun gedung-gedung tinggi. Namun, mereka sendiri harus berpikir berkali-kali sebelum membeli barang yang mereka hasilkan. Tangan mereka membangun kemewahan, tetapi kehidupan mereka jauh dari kata mewah. Bahkan mungkin jauh dari kata layak.
Di negeri itu, guru-guru diminta mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka diminta menjadi teladan, mendidik dengan hati, membuat administrasi, mengikuti pelatihan, mengejar berbagai target, mengisi berbagai laporan, dan menghadapi puluhan bahkan ratusan karakter siswa setiap hari. Namun, guru juga manusia. Mereka punya keluarga, punya kebutuhan, punya lelah. Negeri itu terlalu sibuk menyebut guru sebagai pahlawan sampai lupa bahwa seorang pahlawan juga perlu dihargai dan disejahterakan.
Pendidikan disebut sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Namun, untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, seseorang sering kali membutuhkan uang yang tidak sedikit. Ada sekolah yang lengkap dengan laboratorium, perpustakaan, lapangan, komputer, dan berbagai fasilitas. Ada pula sekolah yang atapnya bocor ketika hujan. Mereka menyuruh semua anak berlari menuju garis akhir yang sama, tetapi sebagian anak berlari dengan sepatu, sebagian tanpa alas kaki, dan sebagian lagi bahkan belum diberi kesempatan untuk berlari.
Di sana, bahasa daerah jumlahnya begitu banyak hingga negeri ini disebut kaya akan bahasa. Namun, sebagian bahasa itu perlahan-lahan kehilangan penuturnya. Anak-anak semakin jarang menggunakannya. Orang tua semakin jarang mengajarkannya. Ketika suatu hari sebuah bahasa benar-benar hilang, mereka akan sibuk membuat seminar untuk membicarakan betapa pentingnya bahasa tersebut. Mereka baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangan sesuatu itu.
Mereka begitu mudah menghakimi kehidupan orang lain. Seseorang yang miskin dianggap malas. Seseorang yang gagal dianggap bodoh. Seseorang yang tidak punya pekerjaan dianggap tidak mau berusaha. Mereka menilai hasil akhirnya tanpa pernah bertanya seperti apa jalan panjang yang telah dilalui. Mereka menuntut orang miskin bekerja lebih keras, tetapi jarang bertanya mengapa kesempatan untuk bekerja layak tidak dibagikan secara adil.
Di sana, berita buruk menjadi tontonan. Kesedihan seseorang menjadi konten. Kemiskinan bisa menjadi bahan video. Musibah bisa menjadi bahan siaran langsung. Tangisan orang lain bisa mendatangkan jutaan penonton. Mereka mengatakan bahwa mereka peduli, tetapi kadang kepedulian itu berhenti pada tombol suka, komentar, dan tombol bagikan.
Orang-orang berlomba menjadi terkenal. Bukan karena karya, pengetahuan, atau pengabdian, tetapi karena kontroversi. Semakin gaduh seseorang, semakin banyak perhatian yang didapat. Semakin sensasional sebuah berita, semakin cepat menyebar. Orang yang bekerja diam-diam membangun negeri jarang masuk televisi, sementara orang yang membuat kegaduhan bisa menjadi bintang dalam semalam.
Mereka berlomba menunjukkan kehidupan terbaiknya di media sosial. Rumah mewah, makanan mahal, kendaraan canggih, liburan ke tempat-tempat menakjubkan. Semua bahagia di depan kamera. Namun, di balik itu orang-orang terlilit utang demi terlihat mampu, membeli sesuatu bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap tidak mengikuti zaman. Negeri itu mengajarkan kebahagiaan bisa dibeli lalu membuat orang-orang miskin merasa bersalah karena tidak mampu membelinya.
Kejujuran diajarkan sebagai nilai luhur sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah. Jangan menyontek. Jangan berbohong. Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Namun, ketika dewasa, mereka menemukan bahwa dunia tidak selalu memberi hadiah kepada orang yang jujur. Kadang orang yang jujur justru dianggap bodoh karena tidak mau mengambil kesempatan. Orang yang memilih jalan lurus harus berjalan lebih jauh daripada mereka yang memilih jalan pintas.
Di sana, semua orang mencintai negeri itu.
Sebab negeri itu memang kaya.
Sangat kaya.
Tanahnya kaya. Lautnya kaya. Hutannya kaya. Tambangnya kaya. Budayanya kaya. Manusianya kaya akan kreativitas dan daya juang.
Tetapi entah mengapa, di negeri yang begitu kaya itu, masih terlalu banyak manusia yang hidup dalam kemiskinan.
Suatu hari nanti, anak-anak negeri itu akan bertanya dengan pertanyaan yang menyakitkan:
“Kalau negeri kami begitu kaya, mengapa kami masih hidup seperti ini?”
Pada akhirnya yang tersisa dari negeri itu hanyalah pertanyaan, pertanyaan, dan pertanyaan.

Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda!