Konon ada negeri sangat kaya. Tanahnya sangat subur. Di sana, tongkat kayu jadi tanaman. Di sana, semuanya bisa tumbuh kecuali keadilan. Sumber daya lautnya tiada tanding, sampai ada lirik lagu: bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kautemui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Garis pantainya salah satu yang terpanjang di dunia. Hasil tambangnya tak habis dikeruk tujuh turunan. Tak cuma tanah dan lautnya, bahasa, budaya, adat istiadat, dan bahkan manusianya paling beragam di dunia. Namun, meski tanahnya subur, petani-petani di sana hidup menderita. Bagaimana tidak, pupuk sulit didapat. Saat panen, pasar-pasar dipenuhi impor dari negeri lain. Hasil panen jatuh bebas, dibuang ke sungai-sungai, dibiarkan membusuk, tak ada harganya. Modal berjuta-juta menguap. Utang sana-sini jadi solusi supaya dapur tetap ngebul. Lahan-lahan yang subur lebih sering digarap orang tua renta. Pemudanya lebih tergoda pekerjaan di kota-kota besar yang lebih men...