![]() |
| Apakah manusia modern benar-benar bebas seperti yang mereka bayangkan? Ataukah sebenarnya kita juga sedang diarahkan oleh sesuatu yang tak sepenuhnya kita sadari? -ABR- |
1984 dan Matinya Kebebasan, Ulasan Buku “1984” Karya George Orwell
Aku sudah lama penasaran dengan buku 1984 karya George Orwell. Rasa penasaran itu muncul setelah aku membaca buku lainnya yang berjudul Animal Farm. Ternyata, 1984 tidak kalah bagus. Buku ini berkisah tentang dunia yang berada di bawah kekuasaan rezim totaliter yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Sampul depan buku ini saja sudah menggambarkan suasana kediktatoran. Gambar mata besar yang seolah terus mengawasi seseorang di bawahnya menjadi simbol negara yang penuh kecurigaan terhadap rakyatnya sendiri. Sementara itu, sosok yang duduk menekuk lutut di bawah mata tersebut menggambarkan rakyat yang tak berdaya di bawah kekuasaan negara.
Kesan mencekam itu langsung terasa sejak awal cerita. Winston Smith, tokoh utama dalam novel ini, digambarkan sedang berjalan di apartemennya sambil diawasi poster Kakak Besar yang terpampang di mana-mana. Mata Kakak Besar dalam poster itu seolah mengikuti siapa pun ke mana pun mereka pergi. Tidak ada tempat untuk benar-benar bersembunyi. Semua ruang dan waktu berada dalam pengawasan partai.
Pengawasan itu diwujudkan melalui teleskrin, alat yang mampu memantau rakyat sepanjang waktu. Teleskrin bukan hanya merekam gerakan dan suara, tetapi juga ekspresi wajah yang dianggap mencurigakan. Bahkan gumaman saat tidur pun dapat diawasi. Selain itu, partai juga mengontrol pikiran masyarakat melalui polisi pikiran. Pikiran yang tidak sejalan dengan ideologi partai dianggap sebagai kejahatan pikiran.
Lewat Winston Smith, seorang pegawai di Departemen Kebenaran, pembaca dapat melihat bagaimana partai mengendalikan kenyataan. Tugas Winston adalah mengubah fakta-fakta lama yang bertentangan dengan kepentingan partai menjadi fakta baru yang sesuai dengan kehendak mereka. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan partai harus dimusnahkan, termasuk bahasa.
Bahasa dalam dunia Oceania dimanipulasi sedemikian rupa hingga jumlah katanya terus dikurangi. Kata-kata yang dianggap berbahaya dihapus dari kamus sehingga manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk berpikir secara bebas. Bahasa yang semula menjadi alat berpikir justru diubah menjadi alat pengendalian. Sejarah pun terus ditulis ulang hingga batas antara fakta dan kebohongan menjadi kabur.
Saat membaca buku ini, aku beberapa kali teringat pada Indonesia di masa pemerintahan Soeharto yang dikenal otoriter. Tentu saja, kehidupan dalam 1984 jauh lebih ekstrem dan tidak sepenuhnya sama dengan kondisi Indonesia pada masa itu. Namun, aku melihat beberapa kemiripan tertentu, terutama dalam penggunaan propaganda, manipulasi bahasa, dan pengawasan terhadap masyarakat.
Pertama, keduanya sama-sama menggunakan simbol pemimpin sebagai alat propaganda. Di Oceania terdapat poster Kakak Besar yang tersebar di mana-mana seolah berkata, “Aku mengawasimu.” Sementara itu, pada masa Orde Baru, foto dan poster Soeharto juga sangat mudah ditemukan di berbagai tempat sebagai simbol kekuasaan negara.
Kedua, keduanya memanfaatkan bahasa untuk kepentingan politik. Dalam 1984 terdapat istilah “unperson” untuk menyebut orang yang dihapus keberadaannya. Sementara itu, pada masa Orde Baru muncul berbagai istilah yang terdengar lebih halus, seperti “diamankan” untuk menggantikan “ditangkap” atau “oknum” untuk memperhalus penyebutan pelaku.
Ketiga, propaganda menjadi bagian penting dalam mempertahankan kekuasaan. Bedanya, Oceania melakukan propaganda tanpa henti selama dua puluh empat jam, sedangkan Orde Baru melakukannya melalui slogan, media, dan berbagai akronim yang sangat melimpah.
Keempat, keduanya sama-sama melakukan pengawasan terhadap rakyat. Namun, pengawasan dalam 1984 jauh lebih ekstrem karena privasi hampir sepenuhnya dihapuskan. Jika Orde Baru memiliki KOPKAMTIB sebagai alat kontrol negara, Oceania memiliki teleskrin dan polisi pikiran yang mengawasi bahkan hingga isi pikiran manusia.
Kelima, kedua rezim itu juga “mendidik” orang-orang yang membangkang melalui rasa takut. Dalam 1984 terdapat Ruang 101, tempat seseorang disiksa menggunakan hal yang paling ia takuti sampai akhirnya tunduk kepada Kakak Besar. Sementara itu, dalam berbagai catatan sejarah Orde Baru, penyiksaan dan interogasi juga menjadi bagian dari cara negara membungkam lawan-lawannya.
Keenam, keduanya memiliki lembaga dengan nama yang bertolak belakang dengan kenyataannya. Oceania memiliki Departemen Kebenaran yang justru memproduksi kebohongan. Sementara itu, Orde Baru memiliki Kementerian Penerangan yang kerap digunakan untuk mengontrol dan membatasi kebebasan pers.
Membaca buku ini membuatku memikirkan kembali arti kebebasan di masa sekarang. Apakah manusia modern benar-benar bebas seperti yang mereka bayangkan? Ataukah sebenarnya kita juga sedang diarahkan oleh sesuatu yang tak sepenuhnya kita sadari?
Aku pernah membaca pemikiran Yuval Noah Harari tentang bagaimana algoritma media sosial perlahan memengaruhi cara manusia berpikir, memilih, bahkan merasa. Mungkin teleskrin tidak lagi dipasang di dinding rumah seperti dalam 1984. Namun, hari ini kita justru membawanya ke mana-mana di dalam genggaman tangan kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda!