![]() |
| "Meski hati adalah semesta yang luas, tak semuanya harus tersimpan di sana," -ABR- |
Lapang
Ada kalanya, kamu merasa hidup terlalu sesak meski semuanya baik-baik saja. Kamu tak punya masalah besar, tapi pundakmu terasa sangat berat. Hidup memang sering seperti itu. Mungkin karena kamu terlalu banyak menggenggam. Enggan melepaskan. Mungkin karena terlalu banyak yang kamu masukkan ke dalam hatimu. Ruang hatimu yang luas tak mampu lagi menampung. Terlalu banyak yang kamu khawatirkan. Terlalu banyak yang kamu pikirkan. Terlalu banyak yang kamu inginkan. Hidupmu terlalu penuh hingga tak ada ruang. Sempit. Sesak.
Perasaan sesak ini sering datang karena keterikatan yang kamu pilih sendiri. Kamu terlalu ingin dimengerti, terlalu ingin dihargai, terlalu takut kehilangan, terlalu cemas akan masa depan, terlalu menyesali masa lalu. Kamu sibuk dengan pikiran bagaimana jika segala hal tidak berjalan seperti rencanamu. Seandainya kamu melepas keterikatan itu, mungkin akan ada ruang lapang untuk berkembang. Pikiranmu menjernih. Hatimu meluas.
Aku pernah merasa sangat luas. Saat itu, aku berbaring di rerumputan setelah lelah bermain sepak bola dengan teman-temanku. Rerumputan itu menusuk-nusuk punggungku, memberikan sensasi menggelitik yang asyik. Di atasku membentang langit biru yang begitu luas, yang entah mengapa membuatku ikut meluas. Aku tak memikirkan apapun saat itu, hanya memandang luasnya langit yang melengkung seperti kubah yang mengurung diriku di dalamnya, di dalam birunya yang menyejukkan mata. Di sekitarku pohon-pohon jati yang daunnya begitu hijau berdiri kokoh seolah-olah tidak akan tumbang oleh badai seberat apapun. Angin sore membuatku semakin betah berbaring di sana. Kesan ini begitu kuat dalam ingatanku.
Aku memikirkan momen itu sekarang. Apa yang membuatku merasa begitu luas? Apakah langit biru itu atau rerumputan? Apakah angin sore itu atau hijau pepohonan? Atau apakah perasaan luas memang telah ada dalam diriku dan kemudian ditarik keluar oleh suasana alam?
Aku mencoba memunculkan lagi perasaan luas itu dengan pergi ke alam terbuka. Namun, itu tak selalu berhasil. Kadang aku meluas sebentar kemudian kembali sesak. Mungkin, aku tak pernah berhasil memunculkan kesan yang sama lagi seperti yang pernah kualami dulu. Selalu ada sesuatu yang masuk ke kapalaku dan pelan-pelan menghentikan momen meluas itu. Sesuatu yang dulu tidak ada padaku: terkadang itu sebuah harapan, terkadang itu anakku sendiri, terkadang masalah di kantor, bahkan terkadang tugas sepele di dalam daftar tugas harianku.
Apakah kita harus membuang semua itu agar hati bisa lebih lapang? Tidak. Kamu tidak bisa membuang semua hal. Namun, kamu bisa memilih hal paling penting sebagai prioritas sambil melepaskan yang kurang penting yang tak bisa kamu gapai.
Kita tak punya seluruh waktu di dunia ini. Kekuatan dan pikiran kita pun sangat terbatas. Namun, inilah kuncinya. Kesadaran akan keterbatasan inilah yang bisa membuat hati dan pikiran kita lebih lapang. Kita lebih mudah mengosongkan ruang dalam pikiran kita karena tahu keterbatasannya. Kita lebih mudah menghargai momen-momen karena tahu waktu kita sangat terbatas. Keterbatasan memberi kita makna. Keterbatasan melapangkan kita.
Menjadi lapang bukan berarti tak peduli pada semua hal. Menjadi lapang artinya tetap berusaha dengan keberanian menerima apapun hasilnya. Menjadi lapang adalah keberanian untuk menerima bahwa ada yang cukup singgah, ada yang memang harus pergi, agar ruang di dalam diri tetap mampu menumbuhkan hal. Sebab, meski hati adalah semesta yang luas, tak semuanya harus tersimpan di sana.

Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda!