![]() |
| Cara terbaik mengajarkan kebaikan adalah menjadi orang baik. |
Dari Teladan ke Teladan
Saya ucapkan terima kasih kepada penerjemah yang telah menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia.
Awalnya, saya mengira ini novel. Setelah membaca daftar isinya, ternyata ini adalah panduan mendidik anak secara Islami.
Pohon cedar dalam judul buku ini melambangkan manusia dewasa yang memegang teguh prinsip-prinsip Islam. Akarnya kuat menghunjam bumi, batangnya kokoh tak mudah patah, dan ranting serta daunnya lebat meneduhkan dan menjadi rumah bagi banyak hewan. Manusia yang mendapatkan pendidikan Islam diharapkan akidahnya kuat menembus sanubari sebagaimana akar pohon cedar menembus bumi. Pendiriannya tak mudah goyah layaknya batang pohon cedar yang kuat dan kokoh. Pribadinya bermanfaat bagi lingkungan dan bagi sesama manusia. Itulah gambaran harapan pendidikan dengan sistem Islam. Benih di sini adalah anak-anak yang masih bersih dari dosa-dosa. Orang tua selayaknya menjaga, memelihara, dan mendukung tumbuh kembang anak agar akidah dan akhlak sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Buku ini diawali dengan kritik tajam terhadap sebagian umat Islam yang tidak merasa terganggu dengan kemerosotan moral generasi muda. Menurut penulisnya, umat Islam yang tidak merasa risih akan kemerosotan moral generasi muda, tidak akan mempu mendidik anaknya menjadi anak yang Qurani, yaitu anak yang mencintai Al-Quran dan meneladani Nabi Muhammad SAW. Jika kita merasa risih dengan kemerosotan moral generasi muda, itu tanda bahwa kita menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik, dan itu adalah modal awal untuk mendidik anak secara Islami.
Saat membaca buku ini, saya sering merasa sudah tahu isi bab-bab selanjutnya, bahkan halaman-halaman selanjutnya. Biasanya, saya akan berhenti membaca buku yang isinya sudah tertebak seperti ini. Tapi kekuatan bahasa dalam buku ini membuat saya tetap membacanya walaupun ternyata tebakan saya terkait isinya benar.
Lambat-lambat saya sadar bahwa yang saya cari dari buku ini bukanlah pengetahuan baru atau hal-hal teknis terkait pendidikan anak, melainkan sebuah teguran keras yang menampar-nampar di setiap lembarnya. Buku ini lebih banyak berisi teguran buat saya: sebuah cubitan yang intens yang membuat saya tetap terjaga dan tetap membalik halaman demi halaman hingga halaman terakhir.
Yang berat dari buku ini bukanlah membacanya, melainkan mempraktikkan apa yang ada di dalamnya.
Cara terbaik mengajarkan kebaikan adalah menjadi orang baik. Saya tahu dari dulu bahwa cara terbaik mengajarkan sesuatu adalah dengan keteladanan. Cara terbaik mendidik anak agar menjadi orang yang ringan menunaikan salat adalah dengan membuat mereka melihat kita melaksanakan salat. Cara terbaik menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Quran adalah menunjukkan bahwa kita juga mencintai Al-Quran dengan membacanya di depan anak, mendiskusikan isinya, mentadaburinya, dan mengamalkan kandungan isinya. Cara terbaik menumbuhkan minat baca anak adalah dengan menjadi pembaca di depan anak. Ya, begitulah. Saya tahu teorinya. Tapi pelaksanaannya tidaklah mudah.
Buku ini seolah-olah mengatakan kepada saya, "Sebenarnya kamu tidak tahu apa-apa, sampai kamu mengamalkan apa yang kamu kira kamu ketahui," ya, begitulah.
Saya sudah mengamalkan tahapan-tahapan awal pendidikan anak secara Islami, yang ternyata tidak dimulai dari lahirnya sang anak, melainkan jauh sebelum itu, yaitu memilih pasangan. Sekarang saya bahkan sudah dikaruniai dua anak. Laki-laki dan perempun. Saya beruntung sempat membaca buku ini saat usia anak-anak saya masih dini. Ini saat yang tepat untuk mengamalkannya. Semoga saya bisa mengamalkannya. Bismillah.
Judul buku: Dari Benih ke Pohon Cedar
Penulis: M. Fethulah Gullen
Penerbit: Republika
Tahun terbit: Cetakan I, November 2018
Jumlah halaman: 238 halaman; 21 cm
ISBN: 786025734335

Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda!