![]() |
“Waspadalah bila mempunyai kepentingan duniawi. Sering kali ia membuat kita lupa kepada hal yang jauh lebih penting dan agung.”
(K. H. A. Mustofa Bisri)
Saya mengenal Gus Mus bukan karena
mendengarkan ceramah-ceramahnya. Saya mengenalnya justru ketika beliau membaca
sebuah puisi. Mulanya, saya bahkan tidak tahu kalau Gus Mus adalah seorang
kiai. Sampai akhirnya saya tahu bahwa beliau adalah kiai, makin kagumlah saya.
Oleh sebab kekaguman itulah saya tak berpikir dua kali untuk membeli buku ini
saat melihatnya di bazar beberapa tahun silam. Meski baru sempat membacanya
sekarang, saya bersyukur menemukan buku ini.
Harapan saya sebelum membaca buku
ini adalah menemukan pemikiran-pemikiran Gus Mus yang meneduhkan dan memiliki
daya pikat sebagaimana puisi-puisinya. Rupanya, isi buku ini adalah sebuah
tafsir atau pemaknaan atas pikiran-pikiran, ajakan, saran, pesan, nasihat, dan
pencerahan Gus Mus yang ditulis oleh Imam Muhtar.
Gus Mus dikenal sebagai kiai yang
mengikuti perkembangan zaman. Beliau tak hanya menggunakan media dakwah secara
konvensional seperti ceramah dari panggung ke panggung. Beliau juga menggunakan
media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan. Imam Muhtar mengumpulkan
semuanya dari media sosial Gus Mus kemudian menafsirkan atau memaknai semuanya
sesuai dengan kemampuannya.
Imam Muhtar sendiri adalah alumni
Perguruan Islam Pondok Tremas. Ia sudah menulis beberapa buku, di antaranya Tremas,
Makkah Nusantara dan Tuhan, Mukmin Muttaqinkah Aku? Satu bukunya
yang juga berkaitan dengan Gus Mus adalah Kado Cinta Untuk Gus Mus.
Mari kita mulai membahas bukunya.
Buku ini bersampul putih dengan ilustrasi sketsa wajah Gus Mus mengenakan
sorban dan kacamata. Desainnya sederhana tapi elegan. Buku ini berisi 31
pembahasan nasihat dan kebijaksanaan Gus Mus.
Mula-mula penulis mengungkapkan
satu nasihat atau pemikiran Gus Mus, kemudian penulis memaknainya.
Nasihat-nasihat Gus Mus tidak dikelompokkan berdasarkan tema tertentu dan tak
ada urutan tertentu. Namun, jika mau dikelompokkan, ada beberapa tema seperti
kecintaan pada dunia yang berlebihan, menjaga hubungan dengan manusia, cinta
pada Rasulullah SAW, menaklukkan diri sendiri, nasihat untuk suami istri, dan
rahmat Allah SWT.
Nasihat-nasihat yang bertema
kecintaan pada dunia yang berlebihan, di antaranya terdapat pada judul Jangan
Tertipu oleh Dunia, Belajar Tawadhu, Kita Penguasa, Bukan Budak!, dan Bekal
Perjalanan. Tema-tema menjaga hubungan dengan manusia ada pada judul-judul Rumus
Meraih Kemuliaan, Please, Deh, Jangan Lebay, Jangan Suka Merendahkan,
Memuliakan Sesama, dan Perbedaan Bukan Jalan Pertikaian. Tema-tema
cinta pada Rasulullah SAW ada pada judul-judul Menghadirkan Nabi Muhammad
SAW dan Ada Rasulullah SAW, Kok Malah Cari yang Lain? Tema-tema
menaklukkan diri sendiri bisa kita temukan dalam judul Tunjukkan Keindahan
Katamu, Prioritaskan Dirimu, Selaraskan Ucapan dan Perbuatan, Sikapmu
Menunjukkan Siapa Dirimu, dan Benarmu Bisa Jadi Hanya Suara Egomu. Tema-tema
rumah tangga terdapat pada judul Bahasa Suami-Istri Bahasa Hati. Tema
rahmat Allah SWT bisa kita temukan dalam judul Semua Karena Rahmat Allah. Itulah
beberapa tema yang berhasil saya kelompokkan. Masih ada beberapa tulisan
lainnya yang tidak tahu harus saya kelompokkan dalam tema apa.
Salah satu cara penulis memaknai
nasihat-nasihat Gus Mus adalah dengan menghadirkan kisah-kisah masa lalu pada
zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Penulis juga sangat sering menghadirkan
contoh-contoh kekinian yang sangat relevan dengan dunia manusia Indonesia saat
ini.
Sebagai contoh, dalam judul Jangan
Tertipu oleh Dunia penulis pertama-tama mengungkapkan nasihat Gus Mus,
yaitu “Waspadalah bila mempunyai kepentingan duniawi. Sering kali ia membuat
kita lupa kepada hal yang jauh lebih penting dan agung.” (K. H. A. Mustofa
Bisri).
Setelah mengungkapkan nasihat Gus
Mus penulis menghadirkan kisah-kisah pemberontakan yang terjadi pada masa
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, pemberontakan-pemberontakan itu
terjadi karena kepentingan duniawi. Perebutan kekuasaan dan jabatan melahirkan
pemberontakan demi pemberontakan yang terus berlangsung.
Penulis juga berpendapat bahwa
runtuhnya kerajaan-kerajaan besar di Indonesia pada masa lalu dilandasi
keserakahan para penguasa. Setelah menghadirkan konteks masa lalu, penulis
menyeret kita melihat kenyataan bangsa yang saat ini digerogoti korupsi di mana-mana.
Korupsi membuat keropos negeri ini. Dari pimpinan paling tinggi hingga tingkat
individu hampir semuanya korup. Inilah akibat dari cinta dunia yang berlebihan.
Yang menarik dari buku ini adalah
pembahasan nasihat-nasihat Gus Mus menggunakan berbagai contoh yang relevan
dengan kehidupan bangsa ini. Kadang penulis menyelipkan kisah-kisah pribadinya
sebagai bentuk refleksi dan sekaligus pengingat bagi dirinya maupun pembaca.
Sesekali penulis juga mengutip ayat-ayat Al-Quran yang relevan dengan
permasalahan yang dibahas.
Saya paling suka bagian awal bab.
Bagian ini berisi kutipan-kutipan Gus Mus yang singkat dan kadang sangat
mengena di hati. Dengan pembahasan yang diberikan Imam Muhtar nasihat-nasihat
tersebut jadi lebih mudah saya pahami dan lebih menyejukkan.
Membaca buku seperti ini entah
mengapa membuat saya merasa lebih adem. Ada sebuah ketakutan di awal membaca
buku ini bahwa saya akan merasa tertekan sebab dosa-dosa saya begitu banyak.
Saya takut tak pantas membaca buku ini. Namun, ternyata ketakutan itu tidak
relevan. Tak ada nasihat-nasihat Gus Mus dalam buku ini yang bersifat ancaman.
Semuanya adalah nasihat-nasihat yang meneduhkan begitu juga dengan pembahasan
yang disampaikan Imam Muhtar. Imam Muhtar seperti sedang menyampaikan
refleksinya atas nasihat-nasihat Gus Mus.
Buku ini menyejukkan. Kurekomendasikan
untuk kalian yang mencari kesejukan jiwa.
Begitulah.
Informasi buku:
Judul: Meregukn Mata Air
Kebijaksanaan Gus Mus: Hikmah dan Nasihat
Penulis: Imam Muhtar
Penerbit: Noktah
Tahun terbit: 2019
Tebal: 270 hlmn; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-5781-49-0

Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda!