The Power of Language: Mengubah Diri untuk Mengubah Cara Berbahasa
Beberapa buku tentang bahasa biasanya langsung membahas teknik berbicara, menulis, atau berkomunikasi. Namun, The Power of Language menawarkan pendekatan yang berbeda. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa kemampuan berbahasa bukan semata-mata persoalan kosakata, tata bahasa, atau teknik komunikasi, melainkan persoalan pengembangan diri. Sebelum seseorang mampu berbicara dengan baik, ia perlu memahami dirinya sendiri terlebih dahulu.
Saya sebenarnya sudah lama membeli buku ini, tetapi baru sempat membacanya ketika liburan beberapa hari yang lalu. Kesan pertama yang saya dapatkan berasal dari desain sampulnya yang sederhana namun elegan. Warna putih yang mendominasi dengan ilustrasi sebuah mangkuk beserta bayangannya memberikan kesan tenang sekaligus filosofis. Ternyata, mangkuk tersebut bukan sekadar hiasan. Penulis menjelaskan bahwa mangkuk adalah simbol kesiapan seseorang untuk menerima perubahan dan ilmu pengetahuan.
Menurut penulis, kedewasaan seseorang dapat ditinjau dari besarnya “mangkuk kesiapan” yang dimilikinya. Orang yang memiliki mangkuk kesiapan yang besar akan lebih mudah mempelajari bahasa dan menggunakannya dengan baik. Karena itu, langkah pertama dalam belajar bahasa bukanlah menghafal kosakata atau mempelajari teori, melainkan memperbesar mangkuk kesiapan tersebut. Caranya adalah dengan mengembangkan rasa percaya diri dan membiasakan diri mengekspresikan emosi secara tepat. Tanpa kedua hal itu, perkembangan kemampuan berbahasa akan sulit dicapai.
Buku ini memaparkan delapan tahap pengembangan bahasa yang dapat ditempuh seseorang untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Pada bagian akhir, penulis juga menyajikan berbagai contoh tokoh besar dunia yang berhasil memengaruhi banyak orang melalui penggunaan bahasa yang efektif.
Tahap pertama yang dibahas adalah pengembangan diri. Di bagian ini, penulis kembali menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri dan kemampuan mengelola perasaan. Untuk menjadi lebih percaya diri, seseorang harus terlebih dahulu mengenali dirinya sendiri: memahami pikirannya, mengenali perasaannya, serta menyadari bagaimana ia biasanya merespons berbagai peristiwa dalam hidup.
Dengan kata lain, kita perlu memiliki kesadaran terhadap pikiran dan perasaan kita sendiri. Kesadaran itu penting agar kita mampu mengendalikan keduanya. Jika kita tidak mengenal dan memahami pikiran serta perasaan kita, kita tidak akan mampu mengendalikannya. Sebaliknya, kitalah yang akan dikendalikan oleh pikiran dan perasaan tersebut.
Penulis mengajak pembaca memandang dirinya dan kehidupannya sebagai sebuah karya yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Kita perlu menjadi pribadi yang unik dan tak tergantikan. Sebab, jika posisi kita dapat digantikan dengan mudah oleh siapa saja, kita bukanlah sebuah karya, melainkan sekadar komoditas. Untuk menjadikan hidup sebagai sebuah karya, kita harus menjalankan berbagai peran dalam kehidupan sebaik mungkin. Dan semua itu berawal dari kemampuan mengamati diri sendiri. Kita hanya bisa memahami posisi kita melalui pengamatan yang jujur terhadap diri kita.
Hal berikutnya yang perlu diupayakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa adalah memperbaiki sudut pandang. Salah satu kutipan yang menarik perhatian saya berbunyi:
«“Meskipun dunia sendiri bersifat objektif, kita melihatnya secara subjektif.” (hlm. 35)»
Melalui gagasan ini, penulis mengingatkan bahwa cara kita memandang dunia sangat menentukan cara kita memahami dan mengungkapkannya melalui bahasa. Jika ingin mengubah sudut pandang, kita harus memiliki keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita anggap pasti. Kita perlu berani mengganti tanda titik dengan tanda tanya.
Menurut saya, bagian ini merupakan salah satu bagian paling menarik dalam buku. Penulis menegaskan bahwa pertanyaan yang tepat sering kali lebih berharga daripada banyak jawaban yang tergesa-gesa. Orang yang berhenti bertanya bisa jadi tidak lagi menemukan sesuatu yang penting bagi dirinya, atau bahkan kehilangan gairah intelektualnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat begitu banyak sudut pandang. Biasanya selalu ada satu sudut pandang yang dominan dan diterima oleh kebanyakan orang. Jika ingin mengembangkan cara berpikir yang lebih luas, kita tidak cukup hanya mengikuti arus. Kita perlu menguji sudut pandang yang dominan tersebut, mempertanyakannya, lalu perlahan membangun sudut pandang kita sendiri.
Buku ini juga mengangkat gagasan tentang kesetaraan intelektual. Ide tersebut cukup menarik untuk direnungkan. Namun, saya pribadi merasa bahwa gagasan itu tidak sepenuhnya dapat diterima begitu saja. Dalam kenyataannya, manusia mungkin memang tidak memulai kehidupan dari titik yang sama. Ada perbedaan latar belakang, kesempatan, pengalaman, dan kemampuan yang membuat kondisi setiap orang berbeda sejak awal. Meski demikian, saya memahami bahwa yang ingin ditekankan penulis adalah pentingnya memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk terus belajar dan mengembangkan potensinya.
Dalam bagian lain, penulis mengutip berbagai pemikir yang mendorong pembaca untuk memperdalam kualitas berpikirnya. Brecht, misalnya, mendesak kita membaca tulisan-tulisan yang sulit dan tidak nyaman dibaca. Sementara itu, Zeng Shen mengajak kita merenungkan persoalan hidup dan mati secara mendalam. Ketika kita mendekatkan diri pada kata-kata dan gagasan semacam itu, kecerdasan kita pun berkesempatan berkembang menjadi lebih dalam.
Selain gagasan-gagasan filosofis, buku ini juga memuat berbagai prinsip praktis dalam berbicara. Pembaca diajak memahami dasar-dasar berbicara secara seimbang, menghindari sikap sok tahu, berhati-hati terhadap orang yang merasa paling tahu, serta belajar memahami sesuatu tanpa harus selalu menyetujuinya.
Ada satu pelajaran menarik yang saya catat: orang yang paling banyak berbicara belum tentu menjadi pihak yang mendominasi percakapan. Sebaliknya, pihak yang tampak menyerah begitu saja justru kadang perlu diwaspadai. Penulis juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam berbicara dan kebiasaan berpikir sebelum berbicara. Semua prinsip itu pada akhirnya mengarahkan kita menjadi pengamat yang tajam. Tanpa kemampuan mengamati, kita tidak akan mampu memahami orang lain maupun diri sendiri secara mendalam.
Bagi pembaca yang ingin menemukan cara berbicara yang lebih segar dan bermakna, buku ini menawarkan beberapa langkah sederhana. Pertama, menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Pikiran yang sudah ditulis dapat dievaluasi, diperbaiki, lalu kembali menjadi bagian dari diri kita dalam bentuk yang lebih matang. Pikiran yang kaya akan menghasilkan pembicaraan yang kaya pula.
Kedua, ketika memberikan pujian atau kritik, cobalah menyampaikan sesuatu yang baru dan belum pernah didengar oleh lawan bicara. Dengan demikian, kata-kata kita menjadi lebih berkesan dan bernilai.
Ketiga, fokuslah pada isi yang paling penting. Hiasan dan gaya bahasa hanyalah pelengkap. Substansi tetap menjadi inti dari komunikasi yang baik.
Bagian akhir buku berisi berbagai contoh penggunaan bahasa oleh tokoh-tokoh besar dunia. Dari bagian ini, saya mendapatkan ide menarik untuk mempelajari bahasa melalui kutipan-kutipan dan perkataan bijak para tokoh dunia. Rasanya, pendekatan semacam itu bisa menjadi bahan sebuah buku yang menarik untuk ditulis.
Sebagai seorang guru, saya juga berusaha menarik berbagai pemikiran dalam buku ini ke dalam praktik pendidikan. Buku ini mengingatkan saya bahwa menginspirasi orang lain bukanlah soal menunjukkan kelebihan diri sendiri. Menginspirasi justru berawal dari kepedulian kepada lawan bicara, membantu mereka menyadari hal-hal kecil yang dapat membawa dampak besar dalam hidup mereka.
Salah satu kutipan penutup yang menurut saya sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari adalah:
«“Mari kita jaga bentuk dan kesopanan dalam tutur kata kita. Dengan begitu, orang-orang akan lebih memperhatikan apa yang kita ucapkan. Sebaliknya, ketika kita mendengarkan ucapan orang lain, tidak perlu terlalu fokus kepada bentuk dan kesopanan dalam kata-katanya. Dengan begitu, kita tidak akan melukai hati orang lain dan kita juga tidak akan mudah terluka akibat kata-kata orang lain.” (hlm. 172)»
Kutipan tersebut merangkum semangat utama buku ini: berbicara dengan baik bukan hanya tentang bagaimana kita menyampaikan pesan, tetapi juga tentang bagaimana kita memandang diri sendiri, memahami orang lain, dan menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Profil Penulis
Shin Do Hyun
Shin Do Hyun adalah seorang ahli ilmu humaniora yang menempuh pendidikan di Jurusan Filsafat dan Jurusan Bahasa Korea. Sejak muda hingga sekarang, ia terus mendalami filsafat dan gemar membaca karya-karya klasik dari Barat maupun Timur. Ia meyakini bahwa upaya mengubah dunia harus berjalan seiring dengan upaya mengubah diri sendiri agar menghasilkan perubahan yang sesungguhnya.
Keyakinan itulah yang mendorongnya mempelajari bahasa dan tutur kata secara mendalam. Hasil dari proses tersebut kemudian melahirkan The Power of Language. Melalui nama penanya, “Mok-in”, yang diberikan oleh guru yang sangat dikaguminya, ia berharap dapat hidup seperti pohon yang mencintai diri sendiri dan dunia dengan sederhana.
Yoon Na Ru
Yoon Na Ru adalah pengajar bahasa Korea dan menulis di sebuah SMA di Seoul. Ia dikenal sebagai penulis melalui karya-karya esainya. Ketertarikannya pada ilmu humaniora bermula dari filsafat karena ia ingin menghasilkan tulisan yang lahir dari pemikiran yang benar-benar dimilikinya sendiri.
Buku The Power of Language merupakan salah satu buah dari perjalanan intelektual tersebut. Ia bertekad untuk terus belajar agar dapat menghasilkan tulisan-tulisan baru yang mendalam dan tidak dibatasi oleh pandangan orang lain.
Penutup
The Power of Language bukanlah buku tentang retorika atau teknik berbicara semata. Buku ini lebih tepat dipahami sebagai buku pengembangan diri yang menggunakan bahasa sebagai pintu masuknya. Melalui perpaduan filsafat, psikologi, dan praktik komunikasi, penulis mengajak pembaca menyadari bahwa kualitas bahasa seseorang pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas dirinya. Karena itu, sebelum belajar berbicara kepada dunia, kita perlu terlebih dahulu belajar memahami diri sendiri.

Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar Anda!