Langsung ke konten utama

Membaca Sengkala Membaca Jawa

Masyarakat Jawa kuno adalah masyarakat yang berperadaban tinggi. Sayangnya, semua itu luntur tergerus zaman. Orang Jawa seperti melupakan nenek moyangnya.


Sudah lama sekali saya tidak membaca buku. Apalagi meresensinya. Alhamdulillah, di bulan Ramadan ini saya berhasil membaca tuntas sebuah buku berjudul The Pakubuwono Code karya Agung Prabowo. 

Buku ini adalah hasil penelitian Agung Prabowo terhadap budaya dan kehidupan masyarakat Jawa kuno. Agung Prabowo sendiri adalah dosen dan peneliti di bidang matematika. Kecintaannya pada matematika telah membawanya meneliti berbagai budaya Jawa kuno yang bersinggungan dengan matematika seperti sengkala, kalender, hingga angka nol dalam tradisi Jawa.

Oke, langsung saja kita bahas. Pertama, saya ingin menyampaikan ekspektasi saya terhadap buku ini. Dari judul bukunya, saya berharap akan menemukan sesuatu yang menegangkan seperti cerita-cerita konspirasi yang dibungkus dengan macam-macam kode rahasia yang akhirnya berhasil dibongkar oleh penulis. Saya berharap demikian karena di belakang buku ini tertulis: “The Pakubuwono Code mengangkat perhitungan dalam bentuk gancaran (prosa naratif) berbagai hal mencengangkan dalam kehidupan manusia Jawa sejak masa prasejarah. Kode-kode rahasia pun bermunculan.” Hasilnya tidak mengecewakan, tetapi tak juga terlalu memuaskan.

Salah satu kode yang dibahas dalam buku ini adalah sengkala. Sengkala adalah sandi bilangan tahun (kronogram), yang digunakan untuk menandai tahun terjadinya peristiwa tertentu. Sengkala dapat ditemukan di prasasti, buku, tembang Jawa, makam, relief candi, keris, mata uang, arca, dan lain-lain. Sengkala yang menggunakan kalimat disebut sengkala lamba. Sedangkan yang menggunakan bentuk fisik seperti arca, relief, keris, dan lain-lain disebut sengkala memet.

Pembahasan mengenai sengkala ini sejujurnya sangat menarik. Dari sengkala di sebuah benda misalnya keris, kita bisa mengetahui kapan keris itu dibuat. Sengkala juga mengungkapkan ramalan-ramalan keruntuhan sebuah kerajaan atau kedatangan zaman baru. Misalnya, sengkala pada ramalan Ranggawarsita yang meramalkan kemerdekaan bangsa ini yang ternyata tepat pada tahun 1945. Sengkala juga digunakan sebagai penanda kapan sebuah candi dibangun dan kapan sebuah kerajaan runtuh.

Menariknya, sengkala ini adalah tanda yang nyata bahwa masyarakat Jawa kuno sudah mengenal basis bilangan sepuluh dengan sistem desimal matematika Jawa. Masyarakat Jawa kuno sudah mengenal nilai tempat pada bilangan yang meliputi satuan, puluhan, ratusan, hingga ribuan. Basis bilangan sepuluh dalam masyarakat Jawa dibuktikan dengan istilah ekan untuk satuan, dasan untuk puluhan, atusan untuk ratusan, dan ewon untuk ribuan.

Dalam salah satu bab di buku ini dibahas keruntuhan Kerajaan Majapahit. Peristiwa yang pelan-pelan meruntuhkan Kerajaan Majapahit seperti bencana alam, Perang Paregreg, pemberontakan, bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam tercatat dalam sengkala, baik sengkala lamba maupun sengkala memet. Tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit dicatat dalam sengkala lamba yang berbunyi sirna ilang kertaning bumi. Sirna bernilai 0, ilang bernilai 0, kertaning bernilai 4, dan bumi bernilai 1. Sengkala lamba dibaca dari kanan ke kiri sehingga tahun runtuhnya Majapahit adalah 1400 Saka. Jika dikonversi menjadi 1478 Masehi.

Sayang sekali, saya tak begitu paham bagaimana menentukan nilai sebuah kata dalam rangkaian sengkala lamba. Penulis juga tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara menentukannya. Alangkah menyenangkan jika ada indeks kata sengkala dan nilainya. Apalagi jika dilengkapi penjelasan mengapa kata tersebut bernilai sekian bukan sekian.

Pembahasan tentang Candi Sukuh juga sangat menarik. Ternyata candi di Indonesia sangat beragam coraknya. Candi Sukuh berbentuk menyerupai piramida. Bentuk yang tidak umum di antara candi-candi lain di Indonesia. Banyak sekali sengkala yang bisa ditemukan di candi ini. Penulis membahasnya dengan detail. Pembaca bisa mendapat tambahan wawasan yang luas tentang Candi Sukuh ini dari pembahasan sengkala di dalamnya.

Sebenarnya, buku ini membahas banyak sekali budaya Jawa dengan cukup menarik. Salah satunya adalah pembahasan mengenai desain lanting yang menyerupai angka 8. Mengapa bukan 7 atau 6 atau bahkan 1? Pandangan penulis sebagai matematikawan terlihat sekali dalam setiap tulisannya. Tapi, terkadang pembahasannya terkesan seperti cocokologi belaka.

Membaca buku ini membuat saya sadar bahwa masyarakat Jawa kuno adalah masyarakat yang berperadaban tinggi. Sayangnya, semua itu luntur tergerus zaman. Orang Jawa seperti melupakan nenek moyangnya. Kiblat mereka bergeser. Kecintaan terhadap Jawa kian memudar. Ah, tapi mungkin ini perasaanku saja.

Informasi Buku:

Judul: The Pakubuwono Code

Penulis: Agung Prabowo

Penerbit: PT. Ufuk Publishing House

Tahun Terbit: Oktober 2014

ISBN: 978 602 7689 74 9

Komentar